Sabtu, 18 September 2010

Senin, 13 September 2010

Keluhuran Al Quran dan Si Pandir dari Florida

Shaykh Dr. Abdalqadir as-Sufi -
Penjelasan yang diberikan oleh Shaykh Dr. Abdalqadir as Sufi yang ringkas tapi tepat pada sasaran mengenai rencana pembakaran Mushaf Al Qur'an di Amerika.


Perbuatan bodoh terkini dari reruntuhan kristen adalah hadirnya seorang pendeta eksentrik- dengan kumis menawan-yang bermimpi bisa membakar Al Qur'an.

Kita memiliki kabar untuk mahluk yang malang ini. Dia tidak mungkin membakar Al Qur'an. Mustahil. Al Qur'an adalah kalam milik Allah yang buan ciptaan.

Ketika seorang Muslim meminta kepada seorang Muslim lain untuk mengambilkan kitab, dia tidak berkata, 'Berikan Qur'an itu kepada saya', melainkan, 'Berikan mushaf itu kepada saya'. Sama artinya dengan, 'Berikan salinan Qur'an itu kepada saya' Pada pembuka (Al Baqarah: 2) Al Qur'an telah difirmankan: 'Itulah kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya'

Dhalikal kitab. Firman tersebut tidak berbunyi 'kitab ini' karena apa yang kita pegang di tangan kita adalah salinannya.

Al Qur'an adalah kalam ‎​​Allah yang bukan ciptaan. Oleh karenanya tidak dapat disangkal. Tentu saja kita memperlakukan Mushaf Al Qur'an dengan penuh hormat. Tindakan pendeta tani labil ini yang berusaha meniru Mao dan Tentara Merah semata-mata mencerminkan kebodohannya sendiri. (Mao Zedong dan Tentara Merah membakar buku-buku pada Revolusi Kebudayaan di Cina-penerjemah)

Allah mempergunakan musuh-musuh Dien Islam untuk meninggikan Dien Islam"

Ketika kabar mengenai rencana para Pengawal Revolusi Mao Zedong untuk membakar Mushaf-Mushaf Qur'an sampai ke telinga seorang Imam di salah satu desa terpencil di Cina, sang Imam segera mengumpulkan anak-anak dan mulai mengajari mereka untuk membaca serta menghafal Al Qur'an.

Ketika akhirnya, para Pengawal Revolusi tiba di desa tersebut, mereka disambut senyuman penduduk desa yang berdiri di depan tumpukan Mushaf Qur'an. Dan ketika para Garda membakar Mushaf-Mushaf tersebut, dari Masjid terdengar suara seratus anak-anak mengalunkan ayat-ayat Al Qur'an yang diberkahi.

Globalization Sonic Boom : Antara Pelaku dan Korban...

Oleh Muhaimin Iqbal   
Sabtu, 11 September 2010 07:47
Shenzhen adalah nama kota di bagian tenggara China tepatnya di provinsi Guangdong. Kota pelabuhan ini baru lahir ketika saya di SMA, jadi baru 30-an tahun usianya. Yang membuatnya istimewa adalah kecepatan pertumbuhannya yang luar biasa. Bila London dan Paris perlu berabad-abad untuk mencapai posisinya yang sekarang;  Kota Manhattan di AS perlu seabad; Los Angeles perlu setengah abad, maka Shenzhen cukup 30 tahun saja untuk menjadi kota yang sangat diperhitungkan di perdagangan dunia  karena kini memiliki pelabuhan no 4 tersibuk di dunia.

Sonic Boom
Cerita tentang beberapa kota-kota dunia dan apa yang dialami oleh penduduknya ini terangkum dalam buku menarik karya Gregg Easterbrook dengan judul “Sonic Boom - Globalization At Mach Speed “(Random House 2010, New York). Buku ini menjadi buku pertama yang saya baca di musim liburan ini, setelah sebulan penuh ‘berpuasa' dari membaca buku-buku yang bersifat ‘duniawi’ seperti ini.

Seperti sonic boom atau bom suara dari pesawat yang terbang melebihi kecepatan suara (disebut Mach), korban dari bom tersebut adalah orang yang berada diluar pesawat – yang dilalui jalur pesawat; pilot dan para penumpang pesawatnya sendiri tidak merasakan suara apa-apa, maka seperti inilah globalisasi melanda dunia dengan sangat cepat. Ada kota-kota dan penduduknya yang menjadi korban globalisasi ini, namun ada juga kota-kota dan penduduknya yang menjadi pelaku dan pemenangnya.

Kota dan penduduk Shenzhen adalah salah satu pelaku dan pemenang tersebut. Meskipun usianya sangat muda, kota itu kini menampung 9 jutaan penduduk yang makmur padahal 30 tahun lalu kota ini hanya dihuni oleh para nelayan miskin. Sebaliknya kota-kota besar lain di dunia, meskipun sebagian penduduknya juga tumbuh mendekati pertumbuhan Shenzhen tidak demikian halnya dengan pertumbuhan kemakmurannya.

Yang menarik adalah mengapa kota seperti Shenzhen bisa tumbuh dan memakmurkan penduduknya dengan begitu cepat sementara kota-kota lain meskipun penduduknya tumbuh tetapi tidak dengan kemakmurannya, sebagian malah mengalami penurunan dari tingkat kemakmurannya ?.

Kuncinya ternyata ada di pasar dan perdagangan – yang indikatornya antara lain terlihat dari aktifitas di pelabuhannya. Perhatikan kota Shenzhen ini yang pelabuhannya mecapai tingkat tersibuk no 4 di Dunia – hanya dalam 30 tahun. Bandingkan misalnya dengan pelabuhan Tanjung Priuk yang telah berusia kurang lebih dua abad, namun hingga kini belum menjadi pemicu kemakmuran bagi warga Jakarta khususnya dan Indonesia umumnya.

Selain faktor kesibukan pelabuhan yang menjadi penentu, juga jenis barang yang keluar masuk melewati pelabuhan tersebut yang sangat penting artinya bagi kemakmuran penduduknya. Bila pelabuhan sibuk tetapi kesibukannya adalah karena lebih besar arus barang konsumsi yang masuk, maka ini menjadi tanda-tanda penduduk kota atau negeri tersebut menjadi pasar bagi kota/negara lain.

Sebaliknya bila kesibukan pelabuhan itu terjadi karena ekspor, mungkin juga diimbangi dengan import tetapi yang diimport adalah barang-barang modal seperti mesin industri dlsb. maka inilah pelabuhan yang mengindikasikan mampu memakmurkan warga kota/negaranya.

Lantas apa penentu keunggulan Shenzhen dan kota-kota lain yang menjadi pelaku dan pemenang perdagangan global ini ?. Berikut adalah 3 diantaranya yang saya anggap paling penting untuk menjadi pelajaran bagi kita.

1. Ekonomi Terbuka

Kemajuan Shenzhen adalah bersamaan dengan China membuka diri dari ekonomi tertutup berbasis komunisme menjadi ekonomi terbuka. Keterbukaan ini akan mendorong efisiensi, dan di pasar global yang paling efisien yang akan unggul. Banyak negara lain yang secara prinsip menganut system ekonomi terbuka, tetapi kemudian ‘menutup’ dirinya sendiri dengan berbagai peraturan, tarif pajak dlsb. yang membuatnya malah tidak mampu bersaing.

2. Inflasi

Ketika inflasi tinggi, ekonomi tumbuh dengan ‘semu’.  Masyarakat penghasilannya naik, tetapi dia tidak bertambah makmur – karena daya belinya turun. Penduduk Shenzhen beruntung pemerintah negeri itu tahun ini misalnya masih bisa mengendalikan inflasi pada angka dikisaran 3.3%.

3. Pahlawan-Pahlawan Baru Yaitu Para Entrepreneur.

Pada masa perang, pahlawan adalah para panglima perang yang berprestasi. Di masa penjajahan, pahlawan adalah para pejuang kemerdekaan – yang rela mengorbankan apa saja untuk kemerdekaan negerinya. Kini ‘perang’ global itu sedang terjadi di dunia ekonomi. Para panglimanya ya para entrepreneur tersebut, bila mereka menang dalam persaingan global sehingga mampu menaklukkan pasar diluar negaranya atau setidaknya mampu menghasilkan produk-produk substitusi dari produk impor – mereka akan membawa negerinya maju dan rakyatnya makmur, sebaliknya bila mereka kalah – mereka akan menjadi pintu masuk barang-barang konsumsi impor – yang ujung-ujungnya akan memiskinkan negaranya.

Untuk poin yang ketiga ini, di buku tersebut diatas juga diulas cerita kepahlawanan baru yang disebutnya sebagai Serial Entrepreneur. Mereka ini adalah para pahlawan entrepreneur  yang jatuh bangun membangun satu demi satu usaha. Sekian banyak yang gagal, tetapi tertutupi oleh satu dua yang berhasil. Mereka banyak sekali mengalami kekalahan dalam ‘pertempuran’, tetapi mereka tidak menyerah karena targetnya adalah memenangi ‘peperangan’.

Maka agar kota-kota dan negeri ini bisa belajar dari Shenzhen dan kota kota lain yang memenangi peperangan global yang disebut globalization, kita harus mampu melahirkan generasi pahlawan-pahlawan baru – generasi Serial Entrepreneur – yang berani ‘berperang’ jatuh bangun merintis usaha dan menciptakan lapangan kerja; mereka babak belur dalam ‘pertempurannya’ tetapi asal mereka tidak menyerah – insyaAllah mereka akan memenangkan ‘peperangannya’.

Pemerintah dan otoritas yang terkait harus memfasilitasi tumbuhnya generasi mereka ini, bukan sebaliknya menghalanginya dengan berbagai peraturan , perijinan, perpajakan dlsb. yang selama ini telah menjadikan negeri ini terpuruk ke peringkat 122 dari sisi kemudahan usaha – sementara tetangga kita yang negerinya hanya kurang lebih seluas Jakarta (sebelum reklamasi, Singapore hanya 581 km2 sedangkan Jakarta 661 km2) mampu menduduki peringkat 1 dunia.

Ayo bangkit para calon entrepreneur Indonesia, Andalah para pahlawan itu kini, pahlawan dalam membuka lapangan kerja – pahlawan dalam memerangi kemiskinan dan membangun kemakmuran. Pahlawan yang disebut di Al-Qur’an karena Anda bersedia menempuh jalan yang mendaki  lagi sukar, untuk membebaskan manusia dari perbudakan (ekonomi) modern dan untuk memberi makan di hari kelaparan....InsyaAllah.

Minggu, 12 September 2010

Selamat Idul Fitri 1431 H

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1431 H
Semoga Puasa dan amalan-amalan ibadah kita diterima Alloh SWT, diampuni segala dosa kita, dicukupkan rizki kita, dimudahkan urusan-urusan kita dan dibalas amal shalih kita dengan nikmat yang telah dijanjikanNya.

Mohon maaf atas segala kesalahan

Senin, 30 Agustus 2010

Selamat menjalankan Ibadah puasa dan Mensyukuri nikmat kemerdekaan

Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan 1431 H
Semoga amal ibadah kita diterima Alloh dan mencapai derajat mutaqin.

Juga selamat mesyukuri nikmat kemerdekaan RI ke 65 dengan tasbih dan taubat.
Semoga Alloh memberi karunia yang besar kepada bangsa Indonseia berupa iman dan taqwa yang meningkat
juga kemakmuran kepada seluruh kaum muslimin
Amin

Minggu, 23 Mei 2010

Ikatan Islam Bakal Terurai Simpul Demi Simpul

Rabu, 12/05/2010 19:38 WIB | email | print | share
Mengapa kekacauan di dunia dewasa ini begitu merebak? Coba perhatikan berbagai berita di media. Hampir semua mengabarkan kekacauan, perselisihan dan kezaliman. Sedemikian merebaknya kekacauan sampai-sampai di kalangan insan media di dunia barat berkembang suatu motto yaitu Bad News Is Good News (berita buruk adalah berita baik). Artinya berita yang mengandung kekacauan diyakini bakal mendatangkan profit bisnis. Bila suatu berita mengandung kebaikan, maka ia dianggap ”tidak menjual” Astaghfirullah..!!

Namun pertanyaan di atas belum terjawab... Mengapa hal ini terjadi di masa kita sekarang? Saudaraku, tidak perlu kita susah-susah mencari jawabnya. Silahkan simak pesan Nabi Muhammad saw berikut:
عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
لَيُنْقَضَنَّ عُرَى الْإِسْلَامِ عُرْوَةً عُرْوَةً فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ
تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِي تَلِيهَا وَأَوَّلُهُنَّ نَقْضًا الْحُكْمُ وَآخِرُهُنَّ الصَّلَاةُ
(AHMAD - 21139) : Dari Abu Umamah Al Bahili dari Rasulullah Shallallahu'alaihiWasallam bersabda: “Sungguh ikatan Islam akan terurai simpul demi simpul. Setiap satu simpul terurai maka manusia akan bergantunganpada simpul berikutnya. Yang pertama kali terurai adalah masalah hukum dan yang paling akhir adalah sholat."
Sebagaimana ditulis oleh Ahmad Thomson dalam bukunya Sistem Dajjal bahwa semenjak hampir satu abad yang lalu dunia memasuki suatu keadaan dimana nilai-nilai Rabbani dan Nabawy ditinggalkan dan nilai-nilai kekafiran alias Sistem Dajjal ditegakkan. Penulis muslim berkebangsaan Inggris ini dengan tegas berpandangan bahwa peradaban modern yang disetir oleh Dunia Barat Yahudi-Nasrani telah menyebabkan seluruh masyarakat dunia terjebak ke dalam suatu kehidupan yang mengingkari eksistensi Allah dan meyakini bahwa hidup ini hanyalah di dunia belaka. Sebagaimana Allah gambarkan mengenai kaum sekularis (orang-orang yang dunia-minded) di dalam Al-Qur’an:
وَقَالُوا مَا هِيَ إِلا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا
إِلا الدَّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلا يَظُنُّونَ
Dan mereka berkata: "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa", dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (QS Al-Jatsiyah ayat 24)
Dari sejarah, kita dapati bahwa sebenarnya selama hampir empat-belas abad dunia berada dalam kebaikan karena dipimpin oleh orang-orang beriman yang senantiasa mengembalikan segenap urusan –baik pribadi maupun publik– kepada hukum Allah dan RasulNya. Para pemimpin tersebut berusaha keras untuk memimbing masyarakat menuju keridhaan Allah dan mengikuti sunnah NabiNya. Memang harus diakui bahwa selama masa itu terkadang ada saja khalifah-khalifah pemimpin ummat yang memiliki karakter bermasalah (baca:fajir), tapi secara formal otoritas kemasyarkatan pada masa itu masih menjunjung tinggi sumber utama rujukan ummat Islam, yaitu Al-Qur’an Al-Karim dan As-Sunnah An-Nabawiyyah. Sehingga secara garis besar ummat masih merasakan rahmat dan nikmatnya hidup di bawah naungan hukum Allah. Sehingga selama rentang waktu yang begitu panjang ummat masih menyerahkan ketaatan dan loyalitasnya kepada Ulil Amriminkum (pemegang urusan dari kalangan orang-orang beriman) sebagaimana diperintahkan Allah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ
وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ
وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ
ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا
”Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS An-Nisa ayat 59)
Namun semenjak dunia menyaksikan berdirinya berbagai negara berdasarkan konsep kebangsaan dan bukan lagi berlandaskan aqidah tauhid dan ibadah kepada Allah semata, maka mulailah dalam bidang hukum masing-masing nation-states tersebut meninggalkan hukum Allah dan RasulNya lalu berkreatifitas menyusun sendiri hukumnya masing-masing. Ada yang kurang kreatif sehingga begitu saja mengadopsi sistem hukum mantan penjajahnya, seperti Indonesia mengambil perangkat hukum Belanda sebagai hukum nasionalnya. Namun ada juga yang sedikit lebih kreatif dengan mengkombinasikan hukum mantan penjajahnya dengan hukum adat-setempat plus campuran hukum dari Al-Qur’an. Tetapi tidak ada yang secara murni dan konsekuen menjadikan hanya Al-Qur’an Al-Karim dan As-Sunnah An-Nabawiyyah sebagai rujukan tunggal hukum nasionalnya, apalagi dalam tataran aplikasinya.
Inilah salah satu tanda akhir zaman yang di-nubuwwah-kan (diprediksi) oleh Rasulullah saw di dalam hadits riwayat Imam Ahmad di atas. “Sungguh ikatan Islam akan terurai simpul demi simpul. Setiap satu simpul terurai maka manusia akan bergantungan pada simpul berikutnya. Yang pertama kali terurai adalah masalah hukum dan yang paling akhir adalah sholat."
Jelas sekali Nabi saw mengisyaratkan bahwa dekadensi penerapan ajaran Islam diawali dengan lepasnya simpul dalam masalah hukum. Dewasa ini kita menyaksikan bahwa tidak ada lagi tatanan masyarakat yang masih menerapkan hukum Islam secara murni dan konsekuen. Semua berlomba meninggalkan hukum Allah dan membanggakan hukum produk kelompok manusia masing-masing bangsa. Tanpa kecuali hal ini juga terjadi di negara-negara berpenduduk mayoritas muslim. Jika masyarakat diajak untuk kembali kepada penerapan syariat Islam atau kembali kepada hukum Allah dan RasulNya, maka kebanyakan orang menolaknya. Padahal sikap penolakan seperti yang mereka tunjukkan hanya pantas dilakukan oleh kaum munafik sebagaimana Allah jelaskan berikut:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ
رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا
“Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul", niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.” (QS An-Nisa ayat 61)

Hukum Allah wajib ditegakkan karena hanya dengan menerapkan hukum Al-Qur’an sajalah kebenaran dan keadilan dapat diwujudkan. Banyak orang mengaku membela kebenaran dan keadilan, namun jika ditanya apa yang dia maksud dengan kebenaran dan keadilan, maka ia pasti akan menjawab selain Al-Qur-an. Padahal kebenaran dan keadilan hanya dapat wujud jika kita menegakkan hukum berlandaskan Kitab Allah, yakni Al-Qur’an.
وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلا
لا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
”Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al Qur'an), sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah-rubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-An’aam ayat 115)
Wajarlah bila hukum Al-Qur’an merupakan hukum satu-satunya yang benar dan adil, sebab seluruhnya bersumber dari Allah Yang Maha Benar lagi Maha Adil. Sedangkan hukum manusia merupakan hukum yang pati mengandung cacat dan ketidak-sempurnaan, sebab Allah sendiri menggambarkan manusia sebagai makhluk yang amat zalim lagi amat bodoh. Bagaimana mungkin manusia dengan karakter seperti itu akan sanggup memproduk hukum yang benar apalagi adil? Tidak mengherankan kalau di zaman ini kita temukan bahwa berbagai kezaliman dan perilaku bodoh merebak di tengah kehidupan masyarakat modern.
إِنَّا عَرَضْنَا الأمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَالْجِبَالِ
فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الإنْسَانُ
إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولا
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS Al-Ahzab ayat 72)
Saudaraku, dari terurainya simpul Islam yang paling pertama ini, maka kitapun menyaksikan terurainya berbagai simpul Islam lainnya. Sehingga dewasa ini tidak lagi mengagetkan bila kita mendapati seorang yang mengaku muslim dengan ringannya meninggalkan kewajiban paling asasi, yaitu sholat. Dan jika ini benar, berarti dewasa ini kita sedang menyaksikan realisasi hadits Nabi saw di atas di mana dari ikatan Islam paling awal –yaitu masalah hukum– hingga ikatan Islam paling akhir –yaitu sholat– semua telah terurai.
Saudaraku, marilah kita menjadikan ini sebagai ibrah agar kita memainkan peranan seoptimal mungkin untuk merajut kembali ikatan Islam simpul demi simpul. Dimulai dengan kita menghidupkan sholat wajib berjamaah dan di masjid hingga mengadvokasi wajibnya ummat kembali hanya tunduk kepada hukum Allah dan RasulNya dan meninggalkan hukum zalim lagi tidak cerdas bikinan manusia yang hanya menimbulkan kekacauan, melestarikan kemungkaran dan berfihak kepada kezaliman. Insya Allah.

*** www.eramuslim.com