Senin, 16 November 2009

Temanggung : Festival Budaya 2009

Minggu, 15 November 2009

Sebuah acara seni budaya yang sangat meriah diadakan di pusat kota Temanggung. Dengan melibatkan 95 grup seni yang terdiri dari 1000 an orang dalam Festival Budaya 2009. Acara itu merupakan bagian dari peringatan Hari Pahlawan dan Ulang Tahun Temanggung ke 175.

Sebagai seorang pendatang, rasanya takjub juga dengan kekayaan budaya di sini, beragam seni yang ditampilkan seperti Tari Topeng Ireng, Tari Laskar Rimba, Kubro, Zan Zenan, Cengklungan, Kuda Lumping, dan banyak lagi. Tidak ketinggalan ada stan tenda potensi daerah di Temanggung, seperti industri makanan dan minuman serta produk komoditas lainya.

Informasi dari panitia, acara ini sudah diselenggarakan setiap tahun, hanya tahun ini diubah formatnya, tidak berupa pawai, tetapi dalam tenda-tenda yang puluhan jumlahnya, sehingga mereka dapat tampil dan disaksikan secara utuh oleh masyarakat.

Menurut Bupati, kemasan tampilan seperti ini akan dilakukan setiaptahun sebagai acara rutin untuk kalender pariwisata Temanggung, karena dengan pariwisata akan banyak mendatangkan manfaat ekonomi secara langsung kepada masyarakat Temanggung.

Saya ucapkan selamat atas suksesnya acara tersebut, semoga Temanggung lebih maju, makmur dan sejahtera dalam lindungan dan bimbingan Alloh SWT.


 Bupati Temanggung KH Hasyim Afandi





Sabtu, 14 November 2009

ETIKA BISNIS ISLAM: AL QUR’AN SEBAGAI PEDOMAN


By M Suyanto

Karen Armstrong menyatakan bahwa di dalam Al Qur’an, Tuhan berbicara langsung dengan orang Makkah menggunakan Muhammad sebagai juru bicara-Nya, persis seperti nabi-nabi Ibrani di dalam kitab suci Yahudi. Maka, bahasa Al Qur’an itu sakral karena kaum Muslim percaya.
Al Qur’an merekam kata-kata yang diucapkan dengan cara tertentu oleh Tuhan sendiri. Ketika para pengikut Muhammad mendengarkan suara Tuhan, yang pertama dilantunkan oleh Nabi dan kemudian oleh pembaca Al Qur’an yang terlatih seolah-olah merasakan pertemuan langsung dengan Allah. Kitab biblikal berbahasa Ibrani dirasakan sebagai ucapan suci dalam pengertian yang serupa. Orang Kristen tidak memiliki konsepsi tentang bahasa sakral semacam ini, karena tidak ada yang suci mengenai Perjanjian Baru yang berbahasa Yunani; kitab suci mereka menampilkan Yesus sebagai Firman yang diucapkan oleh Tuhan kepada manusia. Seperti setiap kitab suci lain, Al Qur’an dengan demikian menghadirkan perjumpaan dengan yang transenden, menjembatani jurang yang amat lebar antara dunia jasad kita yang lemah dan Tuhan.
Mr. Amound Bork, seorang warga negara Inggris yang sangat dikenal berkata, “Undang-undang Muhammad adalah undang-undang yang mengatur seluruh manusia; dari mulai para rajanya hingga rakyatnya yang paling hina. Ia adalah undang-undang yang sangat sempurna, yang mencakup seluruh hukum-hukum pidana dan perdata, serta syariat-syariat yang menerangi, yang tidak pernah ada duanya di dunia.” Dan juga Missou Jouti berkata, “Setiap kali menelaah Al-Qur’an kami senantiasa merasa takut dan kawatir, akan tetapi kami segera dapat merasakan adanya keindahan yang pada akhirnya membawa kami kepada pengakuan akan kebesarannya. Dia antara kitab-kitab suci, ia adalah contoh yang sangat tinggi dan mulia. Pengaruhnya akan selalu hidup di jiwa-jiwa manusia pada setiap generasi dan setiap masa”.
Demikian pula Missou David Bord berkata, “Al-Qur’an adalah undang-undang sosial, undang-undang kependudukan, undang-undang perniagaan, undang-undang peperangan, dan undang-undang pidana dan perdata. Namun di atas semua itu, ia merupakan undang-undang langit yang agung.” Missou Wiliam Moyer juga berkata, “Seluruh hujjah-hujjah Al-Qur’an adalah tabiat yang menunjukkan pertolongan Allah kepada manusia.” Diperkuat pula oleh Missou Joboun, “Undang-undang Islam adalah undang-undang yang sempurna, yang menyamakan seluruh manusia. Dari orang yang paling terhormat hingga orang yang paling hina. Dan hal itu, karena ia didirikan di atas suatu hikmah yang muncul dari akal yang paling luas ilmu pengetahuannya tentang kehidupan ini.”
Missou Barnardshaw berkata, “Imperium Inggris harus mengambil undang-undang Islam sebelum akhir abad ini. Sebab, seandainya Muhammad diutus di abad ini dan ia memiliki kekuasaan untuk berbuat diktator terhadap alam ini niscaya ia akan berhasil dengan sempurna di dalam mengatasi seluruh problematika dunia, dan berhasil membawa dunia kepada kebahagiaan dan kedamaian.” Dan Michael Sells, seorang sarjana Amerika, mendeskripsikan apa yang terjadi pada saat seorang pengemudi sebuah bus yang panas dan sesak di Mesir memutar kaset pembacaan Al Qur’an:”Ketenangan meditatif mulai melingkupi. Orang-orang bersikap rileks. Saling sikut berebut tempatpun berhenti. Suara-suara mereka yang berbicara mulai tenang dan lemah. Yang lainnya diam, hanyut dalam pikiran. Rasa kebersamaan menggantikan segala ketidaknyamanan.

http://msuyanto.com/baru/?p=1527

Senin, 09 November 2009

Temanggung : Rumah Muh Djahri



Djahri alias Muh Djahri

Beberapa bulan yang lalu, ketika santer diberitakan tentang penggerebekan teroris di Temanggung, sebuah rumah dan pemiliknya menjadi sorotan media masa hampir tanpa henti. Semua orang membicarakan hal tersebut dengan antusias sampai akhirnya hampir dilupakan orang karena ada isu yang lebih menarik yaitu Cicak vs Buaya.
Tapi biarlah orang membahas isu terbaru itu, sedangkan saat ini selagi ada kesempatan di sore ini kebetulan  saya lewat di daerah kec. Kedu kab. Temanggung, saya mampir ke rumah Bapak Djahri, atau orang menyebutnya Muh Jahri atau Muh Zuhri.
Dengan ditemani seorang sahabat, waktu itu sekitar jam 15.00 WIB, saya melihat seseorang menaiki sepeda menuju halaman rumahnya. Wah kebetulan, beliau adalah Bapak Djahri. Segera saya dan teman saya turun dari mobil dan menghampiri beliau, kami bersalaman dan mengucapkan salam, kemudian dipersilakan duduk.
Setelah memperkenalkan diri kami, beliau pun juga memperkenalkan diri, bahwa namanya sebenarnya adalah Djahri, tetapi pada saat menikah diberi tambahan Muh karena kata teman-temannya namanya terlalu pendek sehingga menjadi Muh Djahri. Saat ini pak Djahri masih mengajar di SMP Muhamadiyyah Kedu untuk mata pelajaran Agama Islam dan Bahasa Jawa.
Pada kesempatan itu kami juga sempat menanyakan kejadian pada saat terjadinya penggerebekan, kata pak Djahri sebenarya seminggu sebelum kejadian sudah terasa ada yang tidak beres dengan lingkungannya. Mulai dari pertanyaan-pertanyaan orang tentang tamunya sampai pada hari Jumat saat beliau jadi imam dan khotib, terlihat banyak wajah baru yang tidak dikenalnya hadir dan mengikuti  ibadah shalat Jumat. Sampai akhirnya saat penggerebekan beliau menuju rumahnya tetapi dicegat oleh petugas polisi yang melarang mendekati rumah. Pak Djahri memaksa masuk tapi dilarang, “Jangan mendekat, nanti Anda bisa tertembak”
“Tertembak tidak apa-apa…” katanya, karena sudah tahu kalau tamunya tidak mungkin bawa senjata, sebab waktu datang cuma bawa tas kecil saja.
“Tidak boleh, nanti Anda bisa dijadikan Sandra,.. Apapun itu tidak boleh masuk saya bisa disalahkan dan ini tugas saya disini..!” kata polisi
Akhirnya pak Djahri nurut saja yang dikatakan polisi, dan diamankan beberapa meter dari rumahnya, dan juga disaksikannya betapa rumahnya di ledakkan sampai 6 kali, dan ditembaki, beliau hanya bisa pasrah saja.

Rumah Pak Djahri Sekarang

Setelah petugas berhasil menewaskan tersangka, pak Djahri pun dibawa ke Yogyakarta dan kemudian ke Jakarta. Setelah ditanya ini itu yang melelahkan selama beberapa hari  beliau dibebaskan dan rumahnya diperbaiki oleh pihak Polri.
Kata pak Djahri, “Saya ini orang desa, kalau ada tamu maka sudah semestinya saya perlakukan dengan sopan, apalagi dia teman dari keponakan saya” . Ketika ditanya apa teroris itu, jawabnya,”  Saya tidak tahu,apalagi jika dikaitkan dengang maker, tapi kata tetangga saya teroris adalah orang yang melakukan terror, jika anda meneror saya maka anda teroris"
Yah begitulah sekelumit cerita dari Bapak Djahri alias Muh Djahri, seorang yang memiliki sorot mata yang teduh dan suara yang tegas dengan keluguan dan kearifan beliau.
Temanggung, 09 Nov 2009

Kamis, 05 November 2009

[ARTIKEL-WIN] Awas, Pemecah Belah Barisan!

Artike Ini dikirim kepada Anda oleh :

irawan789@gmail.com


Awas, Pemecah Belah Barisan!

Sufyan al Jawi - Numismatik Indonesia

Tegaknya dakwah dan menangnya jihad
<em>fisabilillah</em> sepanjang sejarah Islam tak pernah luput dari
gangguan orang-orang picik


Selengkapnya klik :
http://www.wakalanusantara.com/detil.php?id=174

Selasa, 03 November 2009

Sandrina Malakiano, Dengan Islam Jadi Lebih Sabar dan Ikhlas

Sandrina Malakiano, Dengan Islam Jadi Lebih Sabar dan Ikhlas

Katagori : Journey to Islam
Oleh : Redaksi 31 Oct 2009 - 2:30 am

Setelah memeluk Islam, berbagai kemudahan dan juga ujian datang silih berganti

Penikmat televisi di Tanah Air tentunya mengenal sosok perempuan satu ini. Alessandra Shinta Malakiano nama lengkap perempuan tersebut. Namun, publik lebih mengenalnya dengan nama Sandrina Malakiano. Nama yang kerap dipakainya pada saat tampil di layar kaca salah satu stasiun televisi di Indonesia untuk menyampaikan berita dan peristiwa seputar isu politik dan ekonomi nasional maupun mancanegara.

Lahir di Bangkok, Thailand, pada 24 November 1971, Sandrina dibesarkan di tengah keluarga dengan dua kultur yang berbeda. Ayahnya yang berasal dari Armenia, Italia, merupakan pemeluk Katolik Gregorian. Sementara ibunya yang berdarah Solo-Madura beragama Islam, yang kuat memegang budaya kejawen. ''Saya ini sangat beruntung karena dibesarkan dalam keluarga yang sangat berwarna. Karenanya, saya sering menyebut kehidupan dalam keluarga saya itu sebagai united colours of religion,'' ujarnya kepada Republika, pekan lalu di Jakarta.

Kombinasi dua budaya yang berbeda dari kedua orang tuanya itu, melahirkan kebebasan memeluk agama apa pun bagi anak-anaknya, termasuk Sandrina. Ayah dan ibunya, kata dia, adalah orang tua yang moderat. Mereka menanamkan kepercayaan kepada Tuhan, tetapi membebaskan anak-anaknya untuk menemukan jalan kebenarannya masing-masing.''Menurut orang tua, yang namanya urusan agama itu sangat pribadi. Jadi, setiap orang pasti akan menemukan jalannya sendiri.''

Kendati sang ayah pemeluk Katolik Gregorian dan sang ibu seorang Muslimah, namun Sandrina serta kakak laki-lakinya justru mendapatkan pendidikan agama Kristen Protestan.

Pendidikan agama Kristen Protestan ini ia peroleh di sekolah. Kondisi tersebut, terangnya, dikarenakan pemeluk Katolik Gregorian di Indonesia sangat langka, sehingga gereja Gregorian hanya ada satu yaitu di Jakarta. Sementara, sejak dari bayi, ia tumbuh dan besar di Bali.

Kebebasan yang diberikan orang tuanya, diakui Sandrina, membuat dirinya bingung dan bimbang. Terlebih lagi ketika duduk di bangku SMP yang mulai ada proses pendewasaan diri dalam keseharian istri dari Eep Saefulloh Fatah ini.''Saya mulai bertanya-tanya, sebetulnya saya ini mengakar ke mana, kenapa Kristen Protestan. Sementara saya merasa bahwa tempat saya bukan di sana,'' paparnya.

Sandrina merasa bahwa alam, kultur, dan kehidupan keagamaan yang ada di sekitarnya, sangat sesuai dengan hati nuraninya. Karenanya, sejak saat itu, ia memutuskan untuk mencari tahu dan mempelajari agama yang banyak dianut oleh masyarakat Bali, Hindu.

Ketika duduk di bangku SMA, Sandrina mulai menemukan kecocokan dengan agama Hindu, baik secara emosional maupun dalam kehidupan sehari-hari. Sekitar tahun 1990, saat baru duduk di perguruan tinggi, ia memutuskan untuk meninggalkan ajaran Kristen Protestan dan memeluk Hindu sebagai keyakinan barunya.

Ia menjalani agama barunya ini dengan sepenuh hati. Sandrina mempelajari Hindu dan kemudian mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari, baik secara ritual, aturan, maupun kepercayaan. Bahkan, termasuk membuat album religi Hindu bersama beberapa orang temannya. Album religi Hindu bersifat sosial ini dibuat sekitar 1997.

"Saya menjalaninya dengan penuh totalitas. Karena, saya tidak percaya pada apa pun yang sifatnya setengah-setengah,'' tegas ibu dari Keysha Alea Malakiano Safinka (7 tahun) dan Kaskaya Alessa Malakiano Fatah (14 bulan). Namun, lagi-lagi kegelisahan yang sama muncul dalam dirinya. Ia kembali merasa bingung dan bimbang pada keyakinan Hindu yang dipeluknya. Kebingungan serta rasa bimbang tersebut kerap muncul manakala melihat sanak saudara dari keluarga ibunya melakukan shalat di rumahnya, saat mereka berkunjung ke Bali.

Bahkan, terkadang ia turut serta shalat bersama mereka. Shalatnya hanya dilakukan sebatas ikut-ikutan. Namun, justru hal itu yang memberikan perasaan tenang dalam dirinya seusai mendirikan shalat.

Dari situ, paparnya, timbul keinginan untuk mengetahui Islam lebih lanjut. ''Mungkin kesalahan saya pada waktu itu adalah bertanya kepada orang yang tidak tepat. Misalnya, saya ingin tahu mengenai Islam, tapi informasi yang saya dapatkan mengenai Islam itu kurang baik. Kecendrungan mereka mengatakan Islam itu menyulitkan, tidak fleksibel, tidak universal, dan merendahkan kaum perempuan,'' ujarnya.

Hijrah ke Jakarta
'Pada 1998, ketika ia memutuskan hijrah ke Jakarta, Sandrina dihadapkan pada sebuah lingkungan yang berbeda dengan kehidupannya semasa di Pulau Dewata.Sewaktu di Bali, ia tinggal di sebuah lingkungan yang didominasi oleh pemeluk Hindu. Dan ketika di Jakarta, ia justru tinggal di lingkungan yang mayoritas pemeluk Islam.

Di Ibu Kota Indonesia inilah, Sandrina mendapat kesempatan yang lebih luas dalam melihat Islam secara lebih dekat. Ia pun banyak bertanya tentang agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW ini kepada orang-orang Islam, termasuk pada ulama. Karena itu, kegiatan kesehariannya lebih banyak mempelajari Islam.

Ia juga sempat bertanya pada Ibu Nur, seorang guru mengaji anak pemilik tempat kosnya, tentang Islam. ''Sulit dijelaskan dengan kata-kata. Semakin hari ketertarikan saya pada Islam pun tumbuh. Keinginan untuk lebih banyak tahu mengenai Islam semakin menjadi, dan kerinduan untuk memeluk Islam pun semakin menggebu,'' paparnya.

Dan ketika ia mengungkapkan hal itu pada keluarga terdekatnya serta saudara dan teman-temannya, jelas Sandrina, mereka semua sangat mendukung. Dukungan inipun makin melecut semangat wanita berdarah Italia-Jawa-Madura ini untuk memperdalam Islam dan shalat. Setelah merasa mantap dengan ajaran Islam yang dipelajari selama lebih kurang dua tahun pengembaraannya, maka pada 2000, ia pun membulatkan tekad untuk memeluk agama Islam. Ia bersyahadat di Masjid Al-Azhar, Jakarta.

Rahmat dan hidayah Allah pun senantiasa mengalir padanya. Tak lama setelah memeluk Islam, ia merasa Allah SWT memberikan berbagai kemudahan dalam hidupnya. Salah satunya, ia diterima bekerja di Metro TV. Dari penghasilan yang didapatnya, akhirnya ia mampu tinggal dan kos di tempat yang lebih luas, dibandingkan dengan tempat kosnya terdahulu. Ia juga akhirnya bisa mencicil mobil untuk menunjang aktivitasnya.''Jadi, ke mana-mana tidak lagi naik bajaj, termasuk untuk pergi siaran di televisi. Dari hasil kerja di Metro TV, saya juga masih bisa membantu keuangan ibu di Bali,'' terangnya.



Ujian Bertubi-tubi

Allah SWT tidak akan membiarkan hamba-hambanya yang telah diberi hidayah atau kemuliaan itu dengan begitu saja. Dia akan menguji hambanya itu dengan berbagai macam cobaan. Dan cobaan atau ujian itu adalah ukuran bagi kesempurnaan iman seseorang.

''Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: 'Kami telah beriman', sedangkan mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.'' (QS Al-Ankabut [29] : 2-3).

Kondisi ini sangat tepat disematkan pada Sandrina Malakiano. Setelah berbagai kemudahan ia dapatkan, Allah SWT mengujinya dengan berbagai persoalan yang datang silih berganti dalam kehidupannya. Salah satunya, ia gagal mempertahankan rumah tangga yang telah dibinanya selama kurang lebih empat tahun.

Namun di balik peristiwa ini, Allah justru memberinya sebuah hadiah terindah. Salah seorang kenalannya yang sudah ia anggap seperti ayah sendiri, memberangkatkan dia untuk umrah--sebuah keinginan yang sudah lama ia idam-idamkan. ''Saya berangkat umrah tanpa mengeluarkan uang sepeser pun. Saya betul-betul berangkat dalam kondisi yang zero mind, itu terjadi tahun 2005,'' ujar Sandrina. Umrah kali pertama ini juga merupakan pertama kalinya ia pergi ke luar negeri.

Sepulang umrah pada 2005, ia mendapat kejutan-kejutan lain dari Allah. Allah memberinya seorang pendamping yang lebih saleh dan bisa menjadi imam serta pembimbing yang baik bagi dirinya dan keluarga. Selain itu, setahun berselang, berkat kemurahan seorang pemilik travel haji, ia kembali pergi ke luar negeri dengan tujuan menunaikan ibadah haji.

Namun, ujian belum berhenti. Sepulang dari menunaikan ibadah haji, ia berkomitmen untuk sepenuhnya menjalankan ajaran Islam. Ia memutuskan mengenakan busana Muslimah dan berjilbab. Namun, keputusannya ini dianggap banyak orang hanya untuk memenuhi keinginan suami. Ia tak ambil pusing dengan anggapan orang. Tekadnya sudah bulat untuk berbusana Muslimah. Dan sang suami pun terkejut ketika diberi tahu mengenai keputusannya ini.

''Suami khawatir bagaimana dengan pekerjaan saya sebagai penyiar berita di Metro TV nantinya setelah saya berjilbab. Dia memang sudah membayangkan pasti akan ada kesulitan di sana,'' tuturnya. Apa yang dikhawatirkan suaminya menjadi kenyataan. Manajemen tempatnya bekerja, tidak memperbolehkan dia melaksanakan siaran dengan menggunakan jilbab. Setelah menjalani proses diskusi dan berpikir selama tiga bulan lamanya, ia pun mantap memutuskan untuk mengundurkan diri dari dunia yang telah membesarkannya selama 15 tahun lebih. Pada Mei 2006, keputusan yang sulit pun akhirnya ia ambil. Sandrina resmi mundur dari Metro TV.

Keputusan ini berdampak pada kehidupan sehari-harinya. Ia benar-benar belum siap melepaskan diri dari televisi. Perasaan sedih, sering menderanya. Ia berusaha menghindari televisi. Selama lebih kurang setahun, baru ia bisa kembali menemukan kepercayaan diri sehingga bisa menonton TV. ''Setiap kali nonton televisi rasanya ngenes . Tetapi, alhamdulillah ada suami dan keluarga yang menguatkan saya waktu itu.''

Semua cobaan tersebut, ia maknai sebagai bentuk permintaan dan kasih sayang dari Sang Pencipta agar ia memperluas lahan kesabaran dan keikhlasannya. Termasuk ketika ibunya jatuh sakit pada 2007 dan harus menjalani perawatan di rumah sakit selama 47 hari hingga ajal menjemput. Dan selama 47 hari tersebut, ia terus berada di sisi sang ibu dan mendampinginya melawan penyakit yang menyerang pankreasnya. ''Seandainya saya masih bekerja, mungkin saya tak akan bisa mendampingi ibu yang telah melahirkan saya itu selama lebih dari 47 hari di rumah sakit,'' terangnya.

Cobaan berikutnya datang lagi manakala sang ibu wafat dan ia dihadapkan pada masalah tagihan rumah sakit sebesar Rp 680 juta yang harus segera dilunasi. Saat meninggalkan rumah sakit, ia baru membayar sepertiganya.ia sempat meragukan keputusan yang telah diberikan Allah dalam hidupnya.

Beruntung ia segera disadarkan. Saat itu yang bisa ia lakukan hanya pasrah dan berserah diri kepada Allah. Hingga akhirnya, Allah memberikan pertolongan kepadanya melalui tangan-tangan yang tidak pernah ia sangka sebelumnya. Dalam waktu dua hari setelah pemakaman sang ibu, beberapa orang kenalannya dan ibunya mentransfer sejumlah uang dalam nominal yang cukup besar. Jika ditotal keseluruhan uang tersebut cukup untuk melunasi semua tagihan rumah sakit. ''Ini semua karena kasih sayang Allah. Saya menjadi makin lebih sabar dan ikhlas dalam menerima berbagai macam ujian,'' paparnya. dia/taq/RioL


Biodata:

Nama Lengkap : Alessandra Shinta Malakiano
Nama Populer : Sandrina Malakiano
Lahir : Bangkok, 24 November 1971
Suami : Eep Saefulloh Fatah
Anak : Keysha Alea Malakiano Safinka (7 tahun) dan Kaskaya Alessa Malakiano Fatah (14 bulan).

***http://swaramuslim.net/islam/more.php?id=5725_0_4_0_M44

Minggu, 01 November 2009

AGAR DOA DIKABULKAN



Oleh Ustad Agus Effendi, SPd


“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku maka jawab lah bahwasanya Aku Adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang - orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu, maka hendaklah mereka itu memenuhi ( segala perintahKu ) dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. (QS 2:186)

Bagaimana agar doa dikabulkan oleh Alloh ?

1. Pilih waktu-waktu yang utama sperti :
a. Pada waktu makan sahur
b. Pada akhir shalat fardlu
c. Antara adzan dan iqomat
d. Akhir waktu hari Jumat (antara asar - maghrib)
e. waktu semenjak masuknya imam ke masjid hingga selesainya shalat jumat
f. Ketika berbuka puasa

2. Memilih tempat-tempat yang utama seperti :
Di masjidil haram,masjid nabawi atau masjid lainnya.

3. Terkait kondisi orang yang berdoa yaitu :
a. dalam safar (perjalanan)
b. Doa orang tua kepada anaknya
c. Orang yang sedang berperang fi sabilillah
d. Dalam kondisi genting dan terjepit (kepepet)
e. Selaras dalam hati dan lisannya memohon kepada Alloh saja.
f. Khusnudhan kepada Alloh.

4. Terkait dengan adab-adab berdoa, seperti:
a. Dalam keadaan suci.
b. Menghadap kiblat
c. Mengangkat tangan (dalam berbagai kondisi yang dicontohkan Rosul)
d. Mengulanginya tiga kali
e. Memilih doa yang mencakup banyak hal (misalnya doa sapu jagat)
f. Memperbaiki makanan (perhatikan kehalalannya, jauhi subhat dan makanan haram).
g. Tawasul dengan asmaul husna
h. Tidak berdoa untuk berbuat dosa dan memutus silaturahmi.
i. Menghindari berlebih-lebihan dalam berdoa seperti :
- doa yang mustahil
- dengan asma Alloh yang tidak dicontohkan Rosul
- berlebihan dalam mengeraskan suara
- tidak serius dalam berdoa

5. Menghindari penghalang terkabulnya doa, seperti :
a. Memakan makanan haram
b. Tergesa-gesa dalam meminta terkabulnya doa misalnya :
berkata saya sudah berdoa berkali-kali tapi Alloh tidak mengabulkan.
c. Meninggalkan amar ma’ruf nahyi munkar

Disampaikan dalam kuliah subuh 1 November 2009 di Gedung Dakwah KowanganTemanggung

Mencontoh tata cara ibadah RosullullahSAW




Jumat, 30 Oktober 2009
Khutbah Jumat yang disampaikan oleh ustad M. Siddiq Gunarwanto di masjid besar Al Muhajirin komplek perumahan Kowangan Utama Temanggung secara garis besar dapat kami sampaikan di sini antara lain :
1.       Bersyukurlah atas nikmat Alloh yang telah diberikan kepada kita berupa iman dan Islam, karena kedua hal tersebut adalah kenikmatan yang paling besar, yang nilainya lebih dari harga emas sepenuh bumi.  Nikmat sehat adalah nikmat yang sangat berharga tapi masih tidak seberapa jika dibandingkan dengan nikmat iman. Karena ada manusia yang justru mendapat nikmat iman ketika sedang sakit dan itu adalah karunia terbesar dari Alloh yang wajib disyukuri oleh penerimanya. Dengan nikmat iman akan dapat menyelamatkan kita di dunia terlebih lagi di akhirat.
2.       Dalam diri Rosululloh saw, terdapat contoh dan suri tauladan yang baik. Dialah manusia yang diutusoleh Alloh agar menyampaikan risalah dan ketentuanNya, sehingga dia lebih tahu kehendak Alloh seperti apa dibandingkan dengan kita. Untuk itu jika kita ingin selamat di dunia dan akhirat, contohlah apa yang di lakukan oleh Rosul saw, jangan mengada-adakan suatu ibadah dan tata cara ibadah hanya karena menuruti akal atau hawa nafsu kita. Ikuti saja ajaran rosulullah saw, niscaya kita selamat.

Itulah antara lain hal-hal penting yang disampaikan khotib sekaligus imam. Semoga bermanfaat.